Home Film Mengapa The Shape of Water adalah film nominator Oscar 2018 paling politis?

Mengapa The Shape of Water adalah film nominator Oscar 2018 paling politis?

8
0
SHARE


Hak atas foto
Fox Searchlight

The Shape of Water adalah nominator Oscar paling politis di masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Film kisah cinta antar spesies ini diprediksi kritikus film BBC, Nicholas Barber, akan memboyong penghargaan Film Terbaik.

Para pemilik suara di ajang penghargaan film paling terkenal di dunia, Oscar, kini sudah berubah. Dulu mereka kerap dikecam karena diklaim memberikan piala emas itu kepada film-film yang ‘tidak layak’. Namun, sekarang -tidak bisa pula dianggap lebih baik- pemilik suara cenderung menjatuhkan pilihan mereka kepada film-film paling ‘politis’.

Semua itu bermula sekitar tiga tahun lalu, ketika ajang tersebut dikritik karena tidak memasukkan satu pun aktor non-kulit putih sebagai nominator aktor, aktris, aktor pendukung dan aktris pendukung terbaik. Kala itu ramailah tagar #OscarSoWhite (#OscarTerlaluPutih) di media sosial.

Setahun setelahnya, Oscar seakan jadi ‘lebih sensitif’. Aktor kulit hitam Mahershala Ali masuk nominasi bahkan memenangkan kategori aktor pendukung terbaik lewat film Moonlight. Moonlight yang mengangkat isu LGBT pun menjadi film terbaik.

Nyaris dipastikan pula bahwa Oscar tahun ini akan dipenuhi momen-momen penolakan atas pelecehan seksual, yang saat ini populer lewat tagar #MeToo dan #TimesUp.

Hak atas foto
A24

Image caption

Salah satu shot di film Lady Bird.

Lalu, film apakah yang akan terpilih menjadi Film Terbaik yang akan diumumkan di Dolby Theatre, 4 Maret mendatang? Rasanya tahun ini para pemilik suara akan kebingungan. Pasalnya setiap film seakan punya pesan ‘politis’.

Film garapan Greta Gerwig, Lady Bird, misalnya. Jika memenangkan penghargaan Film Terbaik, film ini akan mencetak sejarah sebagai film pertama pemenang Oscar yang naskahnya ditulis dan disutradarai seorang perempuan. Sepanjang sejarah Oscar, Gerwig adalah perempuan kelima yang menjadi nominator sutradara terbaik.

Namun, Lady Bird tidak sendiri. Saingannya adalah Phantom Thread yang disutradari Paul Thomas Anderson, yang bisa mewakili kampanye #MeToo. Film ini berkisah tentang seorang perempuan yang hidup dibawah dominasi seorang lelaki egois.

Hak atas foto
Focus Features

Image caption

Phantom Thread yang beresonansi dengan gerakan #MeToo

Di sisi lain, #OscarsSoWhite masih dianggap penting. Film horor karya Jordan Peele, Get Out, yang masuk dalam nominasi Film Terbaik, akan mewakili isu ini. Pasalnya film yang dibintangi aktor kulit hitam asal Inggris, Daniel Kaluuya itu berkisah soal rasisme.

Jika film yang berlokasi di Italia, Call Me By Your Name, yang menang, Oscar akan dianggap berpikiran semakin terbuka, mendukung gay. Sementara, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri, yang memperlihatkan karakter perempuan kuat, yang dibintangi Frances McDormand, akan menjadi simbol feminisme.

Memilih The Post yang disutradarai Steven Spielberg dan dibintangi mega-bintang Meryl Streep serta Tom Hanks, akan membuat Oscar terkesan mewakili kebebasan pers dan menentang pemerintahan yang korup.

Hak atas foto
Fox Searchlight

Image caption

Film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri bisa dilihat sebagai film tentang perlawanan perempuan.

Namun, jika melihat tren ‘politis’ ini, sebenarnya kandidat terkuat untuk peraih Oscar kategori Film Terbaik adalah film karya Guillermo Del Toro, The Shape of Water, yang meraih 13 nominasi Oscar.

Memang, film ini disutradarai oleh seorang lelaki, tetapi The Shape of Water ikut ditulis seorang perempuan, Vanessa Taylor. Pemeran utamanya juga adalah perempuan, Sally Hawkins. Tidak hanya itu, film ini punya banyak karakter orang kulit hitam dan gay. Komplit bukan?

Ditambah lagi, film kisah cinta seorang perempuan bisu dengan monster air asal Amerika Selatan itu juga anti-patriarki dan opresi. Singkatnya, The Shape of Water bukan hanya kisah cinta antar spesies, film ini seakan bagai militan yang mengangkat berbagai isu yang kini penting.

Berlatar di Baltimore di akhir masa pemerintahan presiden John F. Kennedy, The Shape of Water dibintangi oleh Sally Hawkins yang berperan sebagai Elisa, seorang wanita kulit putih yang tidak bisa berbicara karena tenggorokannya disayat, saat dia masih bayi. Elisa bekerja di sebuah laboratorium ruang angkasa Amerika, dan berteman dengan seorang perempuan hitam, Zelda (Octavia Spencer).

Laboratorium itu tengah meneliti seekor makhluk yang di akhir kredit film diberi nama Lelaki Amfibi (Doug Jones). Si makhluk ditangkap di Amazon oleh Strickland (Michael Shannon) yang brutal. Lelaki Amfibi ini akan mati dibunuh, jika Elisa tidak menyelamatkannya.

Hak atas foto
Fox Searchlight

Image caption

Kisah cinta antar spesies yang juga mengangkat banyak sentilan politis.

Elisa mencoba mengajak Giles (Richard Jenkins), tetangganya yang merupakan seorang seniman gay. Giles digambarkan tidak punya afiliasi politik. Saat dia menonton berita tentang pendemo hak-hak kaum kulit hitam dipukuli polisi, dia berkata “Saya tidak tertarik,” dan mengganti saluran TV, memilih untuk menonton film klasik.

Ketika Elisa meminta bantuan kepadanya untuk menyelamatkan si makhluk amfibi, dengan datar Giles menjawab: “Memang kita siapa? Kita bukan siapa-siapa.”, ungkapnya. Semuanya berubah ketika dia melihat langsung sepasang orang kulit hitam diusir dari sebuah restoran karena warna kulit mereka. Tidak hanya itu, Giles pun diusir karena dia gay.

Tersadar, dia pun akhirnya mau membantu Elisa. Zelda pun ikut dalam pemberontakan itu.

Hak atas foto
Fox Searchlight

Image caption

Giles dan Elisa.

Sebelum dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Harvey Weinstein ramai dibicarakan, film ini hanya terkesan membawa misi soal solidaritas. Namun, sejak kasus Weinstein menyeruak, adegan Strickland yang memandang Elisa dengan tatapan mesum, menjadi sangat relevan dengan gerakan #MeToo.

Inilah kandidat Film Terbaik Oscar tahun ini yang sangat berhasrat mengangkat tema soal ketidakadilan dan perlawanan terhadapnya. Tidak hanya itu, Del Toro juga telah membuat sebuah film cinta yang terkesan seperti dongeng, lengkap dengan nostalgia zaman keemasan Hollywood, seperti yang pernah diangkat La La Land.

Jika adegan seks dan kekerasan yang muncul singkat di film ini, dihapus, maka The Shape of Water akan menjadi film thriller fantasi untuk semua umur.

Jadi, bisa saja sebenarnya tahun ini adalah tahun yang ringan bagi pemilik suara dalam ajang Oscar. Pasalnya, film yang paling memukau, mempesona mata dan hati, tahun ini, ternyata juga adalah film paling ‘politis’.

Anda bisa membaca versi asli artikel ini berjudul Why The Shape of Water is the most relevant film of the year di BBC Culture.



Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here