Home Film Pengamat Ungkap Rahasia Film ‘Dilan’ Jadi Magnet Penonton

Pengamat Ungkap Rahasia Film ‘Dilan’ Jadi Magnet Penonton

52
0
SHARE


Jakarta, CNN Indonesia — Mengawali 2018, film Dilan 1990 berhasil menggebrak industri perfilman Indonesia. Film yang ditayangkan sejak 25 Januari itu berhasil mendulang jutaan penonton dalam waktu singkat dan menjadi sensasi.

Capaian film yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq, Dilan Dia adalah Dilanku 1990 ini bukan hanya menjadi film terlaris di 2018, tetapi juga masuk dalam jajaran lima film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Pun, Dilan 1990 yang telah mengumpulkan lebih dari 4,5 juta penonton selama dua pekan penayangan masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan jumlah penonton dan membayangi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang memegang rekor penonton 6,8 juta orang.

Fenomena ini dipandang pengamat film Hikmat Darmawan sebagai angin segar bagi dunia perfilman Indonesia.

“Efek Dilan ini menciptakan penonton film. Kayak Pengabdi Setan, jadi sepenuhnya karena unsur film,” katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

“Pertamanya mungkin [menonton] karena takut ketinggalan cerita yang ramai diperbincangkan. Tapi begitu sampai, kemungkinan terhibur karena unsur intrinsiknya, yakni cerita dan adegan,” lanjutnya.

Hikmat berpendapat, salah satu keunggulan Dilan 1990 adalah tetap mempertahankan unsur gombalan yang menjadi magnet bagi banyak orang.

“Yang menarik, banyak yang memujikan gombalannya. Karakter [Dilan] ini membuat perasaan wanita dibuai, tingkah yang ada-ada saja, bad boy yang pandai merangkai kata-kata,” paparnya.

Hikmat berpendapat, salah satu keunggulan ‘Dilan 1990’ adalah tetap mempertahankan unsur gombalan Dilan yang menjadi magnet bagi banyak orang. (Dok. Falcon Pictures)

“Orang seperti dituntun untuk menghargai dengan pintar ngomong dan membuktikan omongan tersebut. Orang dibuat senyum-senyum dengan kata-katanya. Bukan hanya Milea, bahkan tante-tante pun dibuat meleleh,” kata Hikmat lebih lanjut.

Namun bukan hanya soal gombalan Dilan yang membuat penonton meleleh hingga rela menonton di bioskop, tetapi Dilan 1990 menawarkan hal lain, sensasi nostalgia.

“Orang yang datang memang [generasi] ’90-an dan nostalgia jadi faktor X. Karena kalau dipikir film Warkop Reborn pun menyentuh sisi nostalgia,” kata Hikmat.

Hikmat menyebut, sebagian penonton Dilan merupakan mereka yang lahir atau tumbuh besar di era ’80-an dan ’90-an, atau kerap disebut dengan milenial. Mereka, disebut Hikmat, tergolong kelompok yang sudah mapan dan bersedia mengeluarkan uang untuk bernostalgia dengan era itu.

Hikmat pun mengapresiasi film yang dibintangi mantan personel CJR Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla itu berhasil mematahkan stigma ‘bulan kering’ di industri perfilman yang biasanya jatuh di awal tahun.

“Patut dicatat, Dilan 1990 menunjukkan tidak ada lagi musim laris. Film laris biasanya disebut yang rilis saat lebaran dan akhir tahun. Sekarang ‘randomly’ menjadi hit. Januari ada film hit itu bagus untuk perfilman,” katanya.

“Untuk segi marketing, produsernya sendiri terkenal berani untuk investasi modal,” ungkapnya.

Berbahasa baku

Di sisi lain, Hikmat menyoroti penggunaan bahasa Indonesia baku yang cukup dominan baik dalam versi novel maupun film Dilan 1990.

Menurut Hikmat, penggunaan bahasa baku oleh Pidi Baiq dan sukses membuatnya menjadi mudah dicerna oleh masyarakat awam patut diapresiasi.

[Gambas:Youtube]

“Kalau lihat trailernya kan bahasa Indonesia baku, orang pun sempat meragukan karena itu. Namun buat saya itu pahala besarnya Pidi Baiq yang meski urakan tapi mapan karena dia dibesarkan bacaan klasik,” ungkapnya.

“Jadi pernah dalam suatu acara Pidi bicara ‘saya tak akan menulis seperti Chairil Anwar’ tapi dia tahu bagusnya Chairil Anwar sehingga dia merasa harus menulis lebih bagus,” kata Hikmat.

“Bisa dibilang dia ingin mengenalkan sastra dengan cara urakan, tapi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar,” tambah Hikmat.

Menurutnya, penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat kini telah banyak dianggap kaku. Namun karakter Dilan disebut Hikmat berhasil menjauhkan anggapan itu. “Dilan membuktikan bisa [berbahasa Indonesia baku] asyik,” kata Hikmat.

(end)



Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here