Home Viral Polisi Buru Pembuat dan Penyebar Isu Pembacokan Ustaz di Medsos, “Pelaku Melintir...

Polisi Buru Pembuat dan Penyebar Isu Pembacokan Ustaz di Medsos, “Pelaku Melintir Isu Biar Bikin Resah”

54
0
SHARE


POJOKJABAR.com, BOGOR – Polisi memburu penyebar pertama berita viral pembacokan terhadap ustaz yang faktanya ternyata hanya seorang petani di Desa Banyuasih, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor.

“Pihak kepolisian tetap mencari pemilik akun media sosial yang menyebarkan isu yang tidak benar tersebut, karena ia mempelintir isu sedemikian rupa dan menyebabkan keresahan,” ujar Kapolres Bogor AKBP AM Dicky, Rabu (7/2/2018).

Polisi menilai ada maksud dan kepentingan tertentu oleh penyebar Isu tersebut. Oleh karena itu menurutnya yang bersangkutan harus mempertanggungjawabkan secara hukum.

“Apabila ada pihak-pihak yang merasa sudah mengirimkan sejak awal maka silakan menyerahkan diri atau nanti kita akan melakukan pencarian,” ujar Dicky.

Berita viral terkait dugaan pembacokan terhadap ustaz di Desa Banyuasih, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor ternyata dibantah Kapolres Bogor AKBP AM Dicky.

Polres Bogor setelah melakukan penyelidikan atas kasus pembacokan tersebut diketahui korban bukanlah seorang ustaz atau ulama sebagaimana yang beredar di media sosial.

Sulaiman, korban pembacokan merupakan seorang petani biasa yang berselisih dengan pelaku bernama Jamhari.

“Jamhari masih merupakan tetangga dan keluarga daripada korban,” ujar Kapolres Bogor, AKBP AM Dicky, Rabu (7/2/2018).

Meski terjadi peristiwa pembacokan, mulanya, ujar Dicky, kasus ini tidak dilaporkan kepada polisi karena mereka menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

Adapun terkait gangguan kejiwaan yang diduga dialami Jamhari, polisi akan tetap melakukan pemeriksaan terhadap pelaku.

Jika pelaku dinyatakan benar-benar mengalami gangguan kejiwaan maka tidak bisa dituntut secara hukum, di samping memang pihak korban sudah menandatangani surat pernyataan penyelesaian kasus secara kekeluargaan.

“Namun Kepolisian Tetap melakukan proses terhadap kasus ini agar ada kepastian hukumnya,” jelasnya.

Kepastian bahwa korban bukanlah ustaz juga diperkuat dari keterangan Kepala Desa Banyuasih, Mudis Sunardi.

“Untuk kejadian-kejadian itu yang dibacok itu bukan Ustadz tetapi seorang petani dan kejadiannya itu terjadi di Kebun Duren,” ujarnya.

Menurut Mudis, kronologis pembacokan terjadi ketika pelaku sedang ngopi bareng adiknya saat subuh di Kebun Duren.

Lalu pelaku menawar harga durian kepada adik korban seharga Rp 5.000 per butir. Namun adik korban menjawab tidak boleh kalau Rp 5.000 dengan alasan karena harga pasaran durian sebesar Rp 30.000.

“Adik korban mengira hanya iseng-iseng aja karena si pelaku dikenal sebagai orang gila. Namun, Tiba-tiba pelaku pulang dan mengambil golok dan terjadilah pembacokan,” jelas Kades.

 

(Iks/pojokjabar)

 




Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here